BATAM – Program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas (BBG) yang saat ini terus digalakkan pemerintah pusat melalui Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) diharapkan penuh dengan perencanaan yang matang, sistematis dan terukur sehingga benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal tersebut disampaikan Walikota Batam, Ahmad Dahlan saat menerima kunjungan Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Kelembagaan dan Perencanaan Strategis kementerian ESDM beserta rombongan di Kantor Walikota Batam, Kamis, (24/4).
Menurut Wako, Pemko Batam sangat mendukung program ini mengingat ketersedian energi minyak yang semakin menipis, namun dalam hal ini masyarakat perlu diyakinkan bahwa kali ini program konversi BBM ke BBG untuk kendaraan bakal sukses dan pasokan gas akan terjamin. Regulasi yang sering berubah dari pusat juga menjadi faktor kendala sehingga setiap program yang dijalankan di daerah menjadi kurang maksimal bahkan sampai berhenti. “Jangan sampai kita launching programnya, justru gasnya gak ada. Padahal masyarakat sudah mengkonversi kendaraannya ”, tutur Wako.
Ahmad Dahlan juga menjelaskan pasar di batam cukup besar, ini terlihat dari angka pertumbuhan penduduk dan jumlah kendaraan yang ada di Batam. Untuk itu wako kembali meminta perhatian khusus dari pihak kementerian ESDM dan BUMN seperti Perusahaan Gas Negara (PGN) dalam keseriusannya menggarap program ini.
“Gas ini di daerah bisa dikatakan barang baru. Masyarakat batam yang konsumtif dengan mobilitas yang tinggi sangat cepat menyambut setiap kebijakan baru. Namun apabila ada masalah, maka masyarakat juga akan cepat bereaksi. Ini yang harus dicermati terutama soal ketersediaan pasokan gas”, ujar Ahmad Dahlan.
Sementara itu Staf Ahli Menteri ESDM, IGN Wiratmaja yang datang bersama Direktur Komersial PGN, Achmad Rifai menjelaskan Pemerintah pusat berjanji mempercepat program diversifikasi energi, dari penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) atau konversi BBM ke BBG. Wiratmaja menambahkan saat ini kita harus serius berpindah ke gas karena beberapa hal antara lain, harga gas lebih murah daripada minyak. kedua gas produksi dalam negeri dan jumlahnya banyak, ketiga, gas lebih ramah lingkungan. Menurutnya peran serta pemerintah daerah sangat diperlukan dalam rangka percepatan program konversi ini agar segera terealisasi. Peran tersebut antara lain mendukung pemberian izin pembanguan infrastruktur dan fasilitas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), Mengeluarkan regulasi mewajibkan kendaraan umum (taksi, angkutan kota) & kendaraan dinas menggunakan BBG serta Sosialisasi dan edukasi keada masyarakat Kota Batam mengenai program ini.
Secara infrastruktur jaringan pipa gas, Batam dapat dijadikan daerah konversi BBM ke Gas “Role Model” Terkait dengan itu PGN saat ini melakukan perluasan jaringan di Batam, antara lain Kontruksi Ruas Panaran – Tanjung Uncang, dan Konstruksi ruas Baloi – Batu Ampar. PGN pada tahun ini berencana membangun SPBG yang pertama di Batam yang mengambil lokasi di Batam Centre. Selanjutnya pembangunan SPBG di Simpang Base Camp Tanjung Uncang dan di Seraya, Batu Ampar. “Di Batam Centre lokasinya di dekat kantor PGN. Apabila bulan Mei sudah bisa mulai pembangunan, pada bulan September sudah dapat difungsikan. Alat kompresornyapun sudah tersedia untuk di Batam”, jelas Direktur Komersial PGN.
Selain konversi BBM ke BBG, dalam pertemuan tersebut juga dibahas perkembangan program Jaringan Gas (Jargas) untuk kebutuhan konsumsi masyarakat dan industri serta pemanfaatan energi baru yang terbarukan seperti tenaga surya, air dan angin.











