Home Siaran Pers Wako: Maknai Sumpah Pemuda Dengan Kebersamaan Tanpa Membedakan

Wako: Maknai Sumpah Pemuda Dengan Kebersamaan Tanpa Membedakan

0
380

HUMAS PROTOKOL BATAM – Wali Kota (Wako) Batam, Muhammad Rudi dan Ketua Badan Pengusahaan (BP) Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo berdiri bersama di podium usai upacara peringatan hari Sumpah
Pemuda ke-89, Senin (3//10) di Dataran Engku Putri. Dihadapan seluruh peserta upacara Wako memperkenalkan  Lukita sebagai Ketua BP Batam yang baru. Wako mengajak agar pada peringatan Hari

Sumpah Pemuda ke-89 dimaknai dengan kebersamaan tanpa ada membedakan antara Pemko Batam maupun BP Batam. “Sudah tidak saatnya kita saling membedakan suku, golongan dan lain-lain. Di tengah-tengah kita sudah hadir Pak Lukita, Ketua BP Batam yang baru. Sengaja saya undang untuk hadir di sini bersama,” ujar Wako
usai memimpin upacara Sumpah Pemuda.Lukita dalam sambutan singkatnya mengajak agar jangan lagi ada perbedaan dalam membangun Batam.

“Dengan bersama Batam maju dan semakin maju,” katanya singkat.

Suasana lain yang terlihat pada pelaksanaan upacara kemarin, pejabat eselon II dan III serta camat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Batam mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Ada yang mengenakan pakaian adat asal Aceh, Melayu, Batak, Bugis, Minang Kabau dan masih banyak lainnya. Adapun yang bertugas sebagai pelaksana upacara merupakan anggota KNPI Kota Batam dan anggota Menwa Politeknik Kota Batam.

Dalam pidato sambutan Mentri Pemuda dan Olah Raga RI, Imam Nahrawi yang dibacakan oleh Wako, agar kita tidak mewarisi abu sumpah pemuda, tapi warisilah api sumpah pemuda. Jika sekedar mewarisi abu, maka kita akan puas dengan Indonesia yang saat ini sudah satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air.

Tapi ini bukan tujuan akhir. Pesan yang disampaikan oleh Presiden Pertama RI, Bung Karno ini sangan mendalam khususnya bagi generasi muda Indonesia.

Api Sumpah Pemuda harus diambil dan terus dinyalakan. Harus berani melawan segala bentuk upaya yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Juga harus berani melawan ego kesukuan, keagamaan dan kedaerahan. Ego ini yang kadangkala mengemuka dan menggerus persaudaraan sesama anak bangsa. Sebagai rakyat Indonesia kita harus berani mengatakan bahwa persatuan Indonesia adalah

segala-galanya jauh di atas persatuan keagamaan, kesukuan, kedaerahan apalagi golongan. Dalam upacara kemarin juga dibacakan putusan kongres pemuda-pemuda Indonesia Tahun 1928.(HP)

NO COMMENTS